Sore itu di pengujung 2009, ketika seorang pengusaha paruh baya menghadiahkan sebuah telepon seluler terbaru kepada saya dalam rangka pergantian tahun. Hadiah itu bentuk penghargaan atas masukan saya pada suatu pertemuan sebelumnya terkait kondisi perusahaan mereka, ”Usul saudara itu membuka wawasan kami yang tua-tua ini,” ucap beliau saat itu.
Saya sendiri lupa apa tepatnya usul saya itu. Remeh, pokoknya. Jika tak salah, sekadar saran-saran global dan motivasional seputar regenerasi, perbaikan kesejahteraan pekerja dan mitra, serta soal ekspansi bisnis menyambut ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area). Terpujilah Hermawan Kertajaya dan Dale Carnegie yang pandangan-pandangannya banyak saya kutip secara tak tahu diri waktu itu.
Adapun ponsel itu, nama lengkapnya: Sony Ericsson J105i Naite, biasa disapa Naite. Sebagai seorang gaptek yang baik, tentu saja ponsel itu tidak buru-buru saya puja-puji melainkan saya cuekin dulu.
Selain kurang familiar dengan navigasi dan fiturnya, juga karena saya masih sayang dengan ponsel Nokia 3310 jadul saya. Kegaptekan saya saat itu mungkin setara dengan orang-orang mendadak sporty zaman now yang underestimate terhadap kualitas sepatu Asics generasi Gel.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar